Banyak berdebat dan berkutat menanggulangi pemanasan global dan dampaknya belum cukup tanpa berbuat apapun mengenai ledakan populasi manusia di bumi. Harapan hidup yang semakin panjang, membuatnya semakin produktif menghasilkan generasi-generasi baru yang menjejali dunia.
Dengan bertambahnya angka populasi, manusia menempati lahan baru yg sebenarnya bukan untuk mereka, tapi rumah bagi mahluk-mahluk lain (binatang dan tumbuhan) yang sebenarnya menjadi penyokong bagi keseimbangan alam, akhirnya mahluk-mahluk yg terdesak itu pun menyingkir, beberapa ada yang melawan mempertahankan rumahnya, namun keserakahan dan kelicikan manusia seolah membuatnya tidak “berprikemanusiaan” memperlakukan mahluk tersebut.
Berdasarkan estimasi yang diterbitkan oleh Biro Sensus Amerika Serikat, penduduk dunia mencapai 6,5 milyar jiwa pada tanggal 26 Februari 2006 pukul 07.16 WIB. Dari sekitar 6,5 milyar penduduk dunia, 4 milyar diantaranya tinggal di Asia. Tujuh dari sepuluh negara berpenduduk terbanyak di dunia berada di Asia (meski Rusia juga terletak di Eropa).
Berikut adalah peringkat negara-negara di dunia berdasarkan jumlah penduduk (2005):
1. Republik Rakyat Tiongkok (1.306.313.812 jiwa)
2. India (1.103.600.000 jiwa)
3. Amerika Serikat (298.186.698 jiwa)
4. Indonesia (241.973.879 jiwa)
5. Brasil (186.112.794 jiwa)
6. Pakistan (162.419.946 jiwa)
7. Bangladesh (144.319.628 jiwa)
8. Rusia (143.420.309 jiwa)
9. Nigeria (128.771.988 jiwa)
10. Jepang (127.417.244 jiwa)
Sangat mustahil untuk bisa menghentikan populasi manusia, tapi kita bisa mengontrol pertambahannya, meminimalisir daya rusak dan membangkitkan kesadaran. Hanya saja kebanyakan manusia baru bisa berfikir dan melakukan pembenahan setelah bencana terjadi dan terlanjur mengalami kerugian yang besar.
Contoh Kasus “Siapa yg lebih pantas mati…?”
Disarankan sblmnya baca link dibawah ini Kompas.com
Kasus pada link tersebut menceritakan konflik antara manusia dan harimau, diceritakan bahwa harimau menyerang manusia sampai menelan 9 nyawa hanya dalam waktu 2 bulan. Untuk mengantisipasi kasus ini, manusia (aparat, pemerintah dan masyarakat) secara sepihak menyalahkan harimau yang dianggap terlalu buas.






